Senin, 26 Mei 2014

Ringkasan materi tentang plathyhelminthes dan nemathelminthes

Standard

PEMBAHASAN
A.  PLATHYHELMINTHES
1.    Pengertian Plathyhelminthes
Platyhelminthes berasal dari bahasa Yunani, yaitu platy yang berarti pipih, dan helminth yang berarti cacing. Sesuai dengan namanya, anggota kelompok cacing ini memiliki tubuh pipih dorsoventral.
cacing pita
              Gambar 1.1 Platyhelminthes
              Sumber: www.google.com
2.    Ciri-Ciri Umum Platyhelminthes
§  Hewan triploblastik, bentuk tubuh pipih, dan simetri bilateral.
§  Aselomata (belum memiliki rongga tubuh).
§  Belum memiliki anus.
§  Bersifat hermaprodit (berkelamin ganda).
§  Hidup secara bebas dan parasit.
§  Tidak mempunyai sistem peredaran dan alat respirasi
§  Sistem pencernaan belum sempurna, berupa sistem gastrovaskuler
§  Alat ekskresi berupa sel api (flame cell)
§  sistem saraf tangga tali yang terdiri dari sepasang ganglion otak (simpul saraf) dengan saraf-saraf tepi.
a.    Struktur Tubuh
     Tubuh tersusun oleh 3 lapisan :
ü  Ektoderma (lapisan luar)
                 Dalam perkembangan selanjutnya, ektoderma akan membentuk epidermis dan kutikula.
ü  Mesoderma (lapisan tengah)
                 Dalam perkembangan selanjutnya, mesoderma akan membentuk alat reproduksi, jaringan otot, dan jaringan ikat.
ü  Endoderma (lapisan dalam)
                 Dalam perkembangan selanjutnya, endoderma akan membentuk gastrodermis atau gastrovaskuler sebagai saluran pencernaan makanan.
b.    Sistem Organ
Sistem Organ
Keterangan
Sistem pencernaan
Saluran pencernaan pada hewan ini tidak sempurna, yaitu berupa rongga gastrovaskuler yang terletak di tengah tubuh dan berperan sebagai usus. Akan tetapi, ada juga plathyhelminthes yang tidak memiliki saluran pencernaan.
Sistem ekskresi
Sistem ekskresinya bersifat sederhana dan terutama berfungsi untuk memelihara  keseimbangan osmosis antara hewan dengan lingkungannya. Sistem ini tersusun dari sel-sel bersilia, yaitu sel api atau sel-sel bulu getar (selanosit).
Sistem saraf
Terdiri dari 2 ganglia otak yang dilengkapi dengan saraf-saraf tepi sehingga membentuk sistem saraf tangga tali.
Sistem reproduksi
Pada umunya hewan ini bersifat hermafrodit. Artinya, pada satu tubuh terdapat alat kelamin jantan dan betina, namun jarang terjadi pembuahan sendiri. Reproduksi terjadi secara generatif dan vegetatif. Reproduksi secara generatif dengan perkawinan silang dan berlangsung vertilisasi internal. Reproduksi secara vegetatif dengan cara regenerasi, yaitu individu baru berasal dari bagian tubuh induknya.

3.    Klasifikasi Platyhelminthes
Platyhelmintes dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu:
a.    Turbellaria (cacing berambut getar)
Salah satu contohnya adalah Planaria sp. Cacing ini dapat kita temukan di perairan, genangan air, kolam, atau sungai. Biasanya cacing ini menempel di batuan atau di daun yang tergenang air.     
b.    Trematoda (cacing hisap)
Semua anggota cacing ini bersifat parasit pada manusia atau hewan. Beberapa jenis cacing ini merugikan dibidang peternakan karena hewan ternak yang mengandung cacing ini menjadi tidak layak untuk dikonsumsi manusia. Contoh trematoda yang terkenal adalah Fasciola hepatica (cacing hati). Cacing ini biasanya terdapat di dalam kantong empedu hati ternak dan menyerap makanan (nutrien) dari inangnya.
Daur hidup Fasciola Hepatica : Telur (bersama feces) - larva bersilia (mirasidium) - siput air (lymnea auricularis atau lymnea javanica) - sporokista - redia - serkaria - keluar dari tubuh siput - menempel pada rumput / tanaman air - membentuk kista (metaserkaria) - dimakan domba(hepatica)/sapi(gigantica) - usus - hati - sampai dewasa
c.    Cestoda (Cacing Pita)
Cacing yang temasuk dalam kelompok Cestoda berbentuk pipih seperti pita. Tidak mempunyai saluran pencernaan, dan bersifat endoparasit dalam saluran pencernaan vertebrata. Contoh Cestoda  yang terkenal adalah Taenia Solium ( babi sebagai inang perantaranya ) dan Taenia Saginata ( sapi sebagai inang perantaranya ).
4.      Penyakit yang disebabkan oleh plathyhelminthes
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5f/Schistosoma_mansoni2.jpg/220px-Schistosoma_mansoni2.jpg
Gambar 1.3. Schistosoma mansoni
Sumber : EN.WIKIPEDIA.ORG

Beberapa spesies Platyhelminthes dapat menimbulkan penyakit pada manusia dan hewan. Salah satu diantaranya adalah genus Schistosoma yang dapat menyebabkan skistosomiasis, penyakit parasit yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia. Apabila cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, dapat terjadi kerusakan jaringan dan organ seperti kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia. Kerusakan tersebut disebabkan perkembangbiakan cacing Schistosoma di dalam tubuh hingga menyebabkan reaksi imunitas. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia.
 Contoh lainnya adalah Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya. Spesies ini dapat menghisap darah manusia. Pada hewan, infeksi cacing pipih juga dapat ditemukan, misalnya Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap cairan tubuh udang tersebut.








B.  NEMATHELMINTHES
1.    Pengertian Nemathelminthes
Nemathelmintes berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata nematos: benang dan helmints: cacing. Sehingga secara harfiah nematelmintes adalah cacing yang berbentuk benang.
f67-2
Gambar 1.3. Nemathelminthes

2.    Ciri-Ciri Umum Nemathelminthes
§  Berbentuk bulat panjang, berukuran kecil dan mengkilat
§  Hidup di perairan tawar, parairan laut, di tanah, dan sebagai parasit di tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan
§  Termasuk hewan triploblastik
§  Sistem pencernaan makanan berupa mulut, kerongkongan, usus, dan anus
§  Respirasi secara difusi di seluruh permukaan tubuh
§  Ukuran tubuh betina lebih besar dari pada ukuran tubuh jantan
§  Reproduksi secara seksual.
a.    Struktur Tubuh
Nemathelminthes umumnya berukuran mikroskopis, meskipun ada yang panjangnya sampai 1 meter. Individu betina berukuran lebih besar dari pada individu jantan. Tubuh berbentuk bulat panjang atau seperti benang dengan ujung-ujung yang meruncing.Permukaan tubuh Nemathelminthes dilapisi kutikula untuk melindungi diri. Kutikula ini lebih kuat pada cacing parasit yang hidup di inang dari pada yang hidup bebas. Kutikula berfungsi untuk melindungi diri dari enzim pencernaan inang.
Nemathelminthes memiliki sistem percenaan yang lengkap terdiri dari mulut, faring, usus, dan anus. Mulut terdapat pada ujung anterior, sedangkan anus terdapat pada ujung posterior. Nemathelminthes tidak memiliki pembuluh darah. Makanan diedarkan ke seluruh tubuh melalui cairan pada pseudoselom.Nemathelminthes tidak memiliki sistem respirasi, pernapasan dilakukan secara difusi melalui permukaan tubuh. Organ reproduksi jantan dan betina terpisah dalam individu berbeda.
3.    Klasifikasi Nemathelminthes
Nemathelminthes terbagi menjadi 2 kelas, yaitu:
a.    Nematoda
Nematoda memiliki kutikula tubuh yang transparan, mempunyai mulut dan lubang ekskresi, alat reproduksi pada jantan dengan testis dan betina dengan ovarium. Umur cacing pada umumnya mencapai 10 bulan. Nematoda dapat dijumpai di darat, air tawar, dan air laut, dari daerah kutub hingga daerah tropis. Hidupnya ada yang bebas, namun ada pula yang parasit pada manusia, hewan, dan tumbuhan.
Cacing ini tidak memiliki sistem peredaran darah dan jantung, tetapi tubuhnya mengandung cairan semacam darah yang dapat merembes ke bagian tubuh akibat kontraksi tubuh. Bentuk tubuhnya gilik panjang dengan simetri bilateral. Tubuhnya tidak dilapisi silia dan tidak bersegmen.
Contoh anggota nematoda yang parasit pada manusia:
1.    Ascaris lumbricoides (cacing perut)
Ascaris lumbricoides adalah salah satu contoh cacing gilig parasit, tidak punya segmentasi tubuh dan memiliki dinding luar yang halus, bergerak dengan gerakan seperti cambuk. Cacing ini hidup di dalam usus halus manusia sehingga sering kali disebut cacing perut.
2.    Ancylostoma duodenale (cacing tambang)
Cacing ini dinamakan cacing tambang karena ditemukan di pertambangan daerah tropis. Cacing tambang dapat hidup sebagai parasit dengan menyerap darah dan cairan tubuh pada usus halus manusia.Cacing ini memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari cacing perut.
3.    Oxyuris vermicularis (cacing kremi)
Cacing ini disebut cacing kremi karena ukurannya yang sangat kecil, sekitar 10 -15 mm. Cacing kremi hidup di dalam usus besar manusia. Cacing kremi tidak menyebabkan penyakit yang berbahaya namun cukup mengganggu. Infeksi cacing kremi tidak memerlukan perantara.
4.    Wuchereria bancrofti (cacing rambut)
Cacing rambut dinamakan pula cacing filaria.Tempat hidupnya di dalam pembuluh limfa. Cacing ini menyebabkan penyakit kaki gajah (elefantiasis), yaitu pembengkakan tubuh. Pembengkakan terjadi karena akumulasi cairan dalam pembuluh limfa yang tersumbat oleh cacing filaria dalam jumlah banyak. Cacing filaria masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk culex yang banyak terdapat di daerah tropis.
5.    Trichinella spiralis (cacing otot)
Cacing ini hidup pada otot manusia dan menyebabkan penyakit trikhinosis atau kerusakan otot. Manusia yang terinfeksi cacing ini karena memakan daging yang tidak dimasak dengan baik. Cacing betina dewasa melubangi dinding usus halus, keturunan yang hidup terbawa oleh aliran darah menuju otot rangka kemudian menjadi kista.
b.    Nematomorpha
Ciri-ciri umum nematomorpha:
*   Bentuk tubuhnya silindris, tidak memiliki segmen
*   Dinding badan terdiri atas tiga lapisan yaitu cuticula, epidermis dan lapisan otot
*   Hidup di daerah-daerah tropik dan daerah beriklim sedang di setiap tempat yang bersifat aquatika
*   Hidup di laut dan bersifat parasit
*   Permukaan tubuh tertutup kutikula
*   Cacing jantan lebih aktif dari pada cacing betina.
Tidak mempunyai usus tapi mempunyai proboscis yang berduri kemudian terdapat adanya dikepala. Hidup dalam usus vertebrata dan biasanya melekat pada dinding khusus dengan belalai bengkok dengan kait duri.panjang tubuh beberapa mm tetapi ada yang mencapai 50 mm, mempunyai alat pencernaan. Makanan dihisap melalui tubuh hospesnya. Jenis kelaminnya terpisah dan mempunyai system reproduki yang kompleks. Hospes perantara crustacean dan insect. Contoh: Neoechinorhynchus emydis, terdapat pada hewan penyu.  
4.      Sistem Reproduksi dan Respirasi Nemathelminthes
Alat kelamin terpisah, cacing betina lebih besar dari cacing jantan dan yang jantan mempunyai ujung berkait. Gonad berhubungan dengan saluran alat kelamin, dan telur dilapisi oleh kulit yang terbuat dari kitin. Hewan ini tidak berkembangbiak secara aseksual.
Nemathelminthes umumnya melakukan reproduksi secara seksual. Sistem reproduksi bersifat gonokoris, yaitu organ kelamin jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Fertilisasi terjadi secara internal. Telur hasil fertilisasi dapat membentuk kista dan kista dapat bertahan hidup pada lingkungan yang tidak menguntungkan. Nemathelminthes bernapas secara difusi.
5.      Habitat Nemathelminthes
Sebagian besar hewan ini hidup bebas dalam air dan tanah, tetapi ada juga sebagai parasit dalam tanah, yakni merusak tanaman atau dalam saluran pencernaan Vertebrata.
C.  Peranan Dan Pemutusan Daur Hidup Plathyhelminthes Dan Nemathelminthes.
Pada umumnya, Platyhelminthes dan Nemathelminthes tidak ada yang menguntungkan karena bersifat parasit. Kecuali Planaria (Platyhelminthes), Planaria digunakan untuk makanan/umpan ikan.
Agar terhindar dari infeksi cacing parasit, sebaiknya dilakukan beberapa cara, antara lain: memutuskan daur hidupnya, menghindari infeksi dari larva cacing dengan cara tidak membuang tinja sembarangan (sesuai dengan syarat-syarat hidup sehat), dan tidak memakan daging mentah atau setengah matang, dan dalam jangka waktu tertentu meminum obat cacing.






DAFTAR PUSTAKA
v  Srikini, dkk. 2007. Biologi SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga. ( 27 April 2014 )
v  http://hanaruhanaru.blogspot.com/2012/03/platyhelminthes-dan-nemathelminthes.html. ( 27 April 2014 )


0 komentar:

Posting Komentar